Jauh sebelum menjadi pasien rumah sakit jiwa Bina Karsa Simalingkar Kota Medan. Sudah sering melihat orang kesurupan hingga hilang kesadaran. Biasanya mereka hanya dibawa ke orang pintar atau dirukiyah. Jarang sekali mereka dibawa ke psikolog atau psikiater. Padahal mereka yang kesurupan ada gangguan terhadap emosinya.
Sejak usia 10 tahun aku melihat orang kesurupan, menjadi tanda tanya apa yang terjadi pada mereka. Dan saat ini baru aku pahami bahwa itu merupakan salah satu jenis dari gangguan jiwa yang disebut DTD (Disasosiasi Trance Disorder).
Di negara berkembang seperti Indonesia hal tersebut masih dikaitkan dengan hal mistis, orang kerasukan dikatakan kena santet atau terkena gangguan jin. Bagaimana cara kita mensosialisasikan hal ini. Menjelaskan bahwa ini adalah salah satu gangguan jiwa.
Panggilan jiwa untuk menyuarakan hal tersebut yang dapat dilakukan melalui tulisan dan mendirikan rumah rehabilitasi mental. Dimana hal tersebut menjadi wadah untuk menampung orang-orang yang tadinya terganggu jiwanya. Pemberian kegiatan yang dapat menjadi terapi kejiwaan.
Terapi okupasi berupa berkebun dan berternak. Dan bagi yang mau baking juga bisa, semua kegiatan tersebut dilakukan dengan mindfulness. Jika di rumah sakit jiwa pasien hanya dikurung dan diberikan obat. Di rumah rehabilitasi mental pasien diberikan beberapa kegiatan.
Dengan catatan pasien sudah tidak gaduh gelisah lagi, artinya pasien sudah diberikan terapi farmakologi oleh psikiater. Artinya rumah rehabilitasi mental merupakan kombinasi dari beberapa terapi. Banyak para pasien jiwa memiliki rasa tidak percaya diri dan sulit dalam bekerja.
Maka dari itu jalan agar mereka dapat berdaya salah satunya dengan memberi skill wirausaha dengan berkebun/beternak/baking/pijat dll. Dengan begitu mereka dapat berdaya dan berkontribusi pada masyarakat.
Kesehatan mental merupakan isu yang sangat strategis karena begitu banyaknya tantangan hidup yang kita hadapi bersama. Terutama di negara berkembang, kesehatan mental masih dipandang sebelah mata. Hingga akhirnya mereka atau keluarga mengalami gangguan jiwa baru mereka menyadari pentingnya kesehatan mental.