Selasa, 18 Maret 2025

Peduli Kesehatan Mental

Jauh sebelum menjadi pasien rumah sakit jiwa Bina Karsa Simalingkar Kota Medan. Sudah sering melihat orang kesurupan hingga hilang kesadaran. Biasanya mereka hanya dibawa ke orang pintar atau dirukiyah. Jarang sekali mereka dibawa ke psikolog atau psikiater. Padahal mereka yang kesurupan ada gangguan terhadap emosinya. 

Sejak usia 10 tahun aku melihat orang kesurupan, menjadi tanda tanya apa yang terjadi pada mereka. Dan saat ini baru aku pahami bahwa itu merupakan salah satu jenis dari gangguan jiwa yang disebut DTD (Disasosiasi Trance Disorder). 

Di negara berkembang seperti Indonesia hal tersebut masih dikaitkan dengan hal mistis, orang kerasukan dikatakan kena santet atau terkena gangguan jin. Bagaimana cara kita mensosialisasikan hal ini. Menjelaskan bahwa ini adalah salah satu gangguan jiwa. 

Panggilan jiwa untuk menyuarakan hal tersebut yang dapat dilakukan melalui tulisan dan mendirikan rumah rehabilitasi mental. Dimana hal tersebut menjadi wadah untuk menampung orang-orang yang tadinya terganggu jiwanya. Pemberian kegiatan yang dapat menjadi terapi kejiwaan. 

Terapi okupasi berupa berkebun dan berternak. Dan bagi yang mau baking juga bisa, semua kegiatan tersebut dilakukan dengan mindfulness. Jika di rumah sakit jiwa pasien hanya dikurung dan diberikan obat. Di rumah rehabilitasi mental pasien diberikan beberapa kegiatan. 

Dengan catatan pasien sudah tidak gaduh gelisah lagi, artinya pasien sudah diberikan terapi farmakologi oleh psikiater. Artinya rumah rehabilitasi mental merupakan kombinasi dari beberapa terapi. Banyak para pasien jiwa memiliki rasa tidak percaya diri dan sulit dalam bekerja. 

Maka dari itu jalan agar mereka dapat berdaya salah satunya dengan memberi skill wirausaha dengan berkebun/beternak/baking/pijat dll. Dengan begitu mereka dapat berdaya dan berkontribusi pada masyarakat. 

Kesehatan mental merupakan isu yang sangat strategis karena begitu banyaknya tantangan hidup yang kita hadapi bersama. Terutama di negara berkembang, kesehatan mental masih dipandang sebelah mata. Hingga akhirnya mereka atau keluarga mengalami gangguan jiwa baru mereka menyadari pentingnya kesehatan mental. 

Sabtu, 22 Februari 2025

Babak baru setelah diagnosa psikiater

Hidup selalu memberikan pelajaran atas setiap peristiwa yang kita jalani. Setiap orang yang kita temui pasti memiliki karakter yang berbeda-beda yang memberikan ciri atas karakter sesuai dengan cerita hidupnya. Pengalaman setiap orang berbeda-beda hal itu yang membuatnya dirinya unik dari yang lainnya. 

Tidak menghakimi seseorang baik atau buruk adalah suatu hal yang bijak, karena sesungguhnya setiap orang memiliki kebaikan dan juga keburukkan dengan kadarnya masing-masing. Jika tadinya aku mudah sekali membenci orang karena sikapnya tidak sesuai dengan harapanku. Saat ini aku hanya menjadi pengamat atas setiap karakter yang aku temui dan menyadari mereka dengan apa adanya diri mereka. 

Jika ada dari sikap mereka yang tidak aku sukai maka aku jadikan sebagai bahan refleksi agar tidak menjadi seperti mereka. Jika ada kebaikan yang dapat diambil maka dapat dijadikan inspirasi untuk berbuat lebih baik lagi dari apa yang telah mereka lakukan sesuai dengan kemampuan yang aku miliki. 

Banyak sekali hal-hal yang menarik yang dapat diperoleh dari setiap perjalanan kita. Jangan pernah menyesali hal yang telah terjadi. Namun fokuslah terhadap hal yang ingin kita ubah menjadi jauh lebih baik dan bermakna. Hidup ini terlalu indah untuk disia-siakan. 

Berbagi hal yang kita miliki merupakan hal yang dapat memberikan efek kebahagiaan dan membuat hidup menjadi lebih berwarna. Tuliskanlah kisahmu dan baca kembali, coba lihat perbedaannya dari waktu ke waktu begitu banyak nikmat yang telah diberikan Tuhan untuk kita dapat menjadi berkat buat yang lainnya. 

Tidak ada yang kebetulan di dunia ini, semua ada hikmah dibalik setiap peristiwa. Hikmah dari skizofrenia yang aku alami adalah lebih mawas diri dalam menjaga tubuh, pikiran, perasaan juga gejolak emosi. Lebih dapat mengontrol diri dan tidak hanyut dalam kondisi yang tidak dapat dikontrol. 

Lebih tenang dalam menghadapi setiap peristiwa yang hadir. Lebih empati terhadap permasalahan hidup orang lain, dan hati-hati dalam mengambil tindakan. Menjadi orang yang tidak reaktif dan menjadi orang yang lebih toleran lagi terhadap kehidupan dan pandangan hidup orang lain. 

Berdamai dengan diri sendiri apapun kondisi dan situasinya. Tidak terpengaruh untuk membandingkan diri dengan yang lain karena yakin Tuhan telah menentukan segalanya menjadi lebih indah dengan beraneka ragam cerita kehidupan. 

Berubah ke arah yang lebih baik dan konsisten dengan perubahan kecil yang memberikan pada peningkatan kualitas kehidupan baik secara mental juga materi. Membantu sesama sesuai kapasitas diri. Tidak berusaha untuk melaksanakan diri diluar kemampuan. Terus berpikir positif dan menjaga perasaan positif terhadap berbagai hal yang dialami. 

Menjaga kesehatan mental merupakan kesadaran untuk kita bisa hidup lebih bermakna. Karena ketika mental kita terganggu maka kita akan menjadi beban keluarga dan juga masyarakat. Berapa banyak orang yang terganggu mentalnya, yang seharusnya dapat menambah nilai APBN malah menjadi beban. 

Kesadaran itu harus digaungkan agar kita semua melakukan kegiatan preventif yaitu dengan cara lebih menerima apapun yang telah terjadi pada kita. Begitu banyak alasan yang membuat kita stress dan depresi, dari mertua, tetangga yang julid, perekonomian sulit, rekan sejawat dan lainnya. 

Apakah kita dapat mengontrol mereka? Tidak. Kita hanya bisa mengontrol diri kita dalam menghadapi mereka. Bagaimana respon kita akan sangat berpengaruh pada kesehatan mental kita. Saya telah membuktikan terganggu mental saya selama ini karena saya mengizinkan mereka mempengaruhi kondisi mental saya. 

Itu pelajaran yang sangat penting untuk sama-sama menyadari bahkan kita yang bertanggung jawab terhadap kesehatan mental diri kita sendiri, bukan orang lain. Orang lain punya kehendak bebas dalam mempengaruhi kondisi mental kita dengan berbagai tingkah dan perbuatannya. Tapi kita yang berhak mengizinkan kita terpengaruh atau tidak. 

Mengurangi beban negara terhadap bertambah ODGJ merupakan hal baik yang dapat kita lakukan dengan menjaga kesehatan mental diri, pasangan dan anak-anak kita

Refleksi 13 tahun pernikahan


Memasuki usia ke 13 tahun pernikahan begitu banyak kisah yang timbul dan layak untuk diceritakan sebagai kenangan dan pelajaran yang dapat diambil hikmahnya. Jauh sebelum menikah suami sudah wanti-wanti agar aku tidak bekerja dan fokus sama keluarga. Awalnya aku iyakan, tapi dalam hati nanti ketika sudah menikah bisalah kita nego, begitu pikirku. 

Sesuai permintaan suami aku tidak bekerja namun aku tetap usaha dirumah dengan berjualan aneka kue. Sebenarnya suami bingung dengan keputusanku ini. Memang benar aku tidak bekerja diluar rumah, usaha dirumah dengan tidak meninggalkan anak-anak. Tapi bukan seperti itu juga maunya. 

Suami pingin aku benar-benar fokus sama anak tanpa terdistraksi dengan hal lain meskipun usaha dirumah. Awal-awal kita sering ribut karena hal tersebut. Karena prinsipku aku pingin menghasilkan uang sendiri untuk bisa membeli hal yang aku inginkan. Singkat kata akhir tahun 2018 setelah usia pernikahan kita sudah lima tahun, kita berantam hebat dan aku lari dari rumah pulang ke rumah orang tua di Lhokseumawe. 

Pada saat itu sudah ada pikiran buruk dikepala untuk berpisah saja. Namun, ada bisikan dikepala yang mengatakan "balik saja pulang ke Medan toh dia orang baik". Dan setelah merenung akhirnya aku putuskan untuk kembali walaupun tidak dijemput, aku balik sendiri. Pergi tidak diantar pulang tidak dijemput, seperti jelangkung 😁

Balik lagi ke Medan aku memutuskan untuk tidak melanjutkan usaha tapi memilih untuk mengajar di sekolah swasta untuk anak kelas satu SD, tapi tidak lama hanya satu semester aku berhenti karena ternyata walaupun aku mengajar aku tetap menerima orderan kue, dan ternyata aku lebih senang buat kue karena uangnya lebih banyak. 

Singkat cerita tahun Desember 2020 setelah keguguran diakhir tahun 2019 aku melahirkan anak kedua Adik dari M. Ali Siregar yaitu M. Hasan Siregar. Setelah melahirkan anak kedua aku tetap usaha bakery walaupun tidak bisa masif seperti dulu karena sudah agak repot. 

Tiga tahun berselang yaitu tahun 2023 ternyata lahir lagi anak ketiga M. Husain Ja'far Siregar. Ditahun ini awal-awal aku tetap usaha, jadi pendamping halal dan juga mengajar baking walaupun anak belum usia satu tahun pada saat itu. Semakin tinggi cita-cita sampai ditahun 2024 aku buat akte notaris Yayasan Auliya Yatimi Ardhi dengan merogoh kocek 4 juta. Dengan yayasan itu awalnya aku akan membuat LKP Baking. 

Ternyata oh ternyata, 24 Juni 2024 aku mengalami luapan emosi yang selama ini aku tahan baik dari masa aku kecil, remaja dan bahkan ketika aku hidup dalam pernikahan. Semua kenangan pahit yang tersimpan rapi dalam pikiran bawah sadar yang biasa hanya muncul dalam mimpi pada hari itu muncul ketika aku dalam kesadaran. Aku mengalami halusinasi dan delusi, aku menjerit histeris dan akhirnya dibawa ke rumah sakit jiwa dan oleh dokter jiwa didiagnosa skizofrenia (F20) 

Ternyata begitu banyak pendaman emosi yang belum aku lepaskan menyebabkan aku depresi dan memunculkan gejala skizofrenia yang mungkin sudah ada secara genetik. Dari tanggal 28 Juni 2024 aku melakukan pengobatan rawat jalan atas skizofrenia yang aku derita hingga akhir di tanggal 12 Februari 2025 genap setelah 13 tahun aku tinggal di rumah mertua bersama suami akhir aku dapat melepaskan semua emosi yang ada dalam jiwaku ini. 

Kemarahan terhadap orang tua, saudara, mertua, suami dan semua pengalaman pahit yang aku dapatkan selama ini aku terima dengan penuh keikhlasan dan aku sadari bahwa hal tersebut merupakan kisah yang memang ditakdirkan Tuhan untuk mendewasakan diriku. Dalam kejadian tersebut begitu banyak hikmah yang aku dapatkan satu diantaranya aku kembali perhatian dan konsentrasi pada keluarga terutama anak-anak. 

Tuhan ingin memberikan aku hikmah yang besar lewat skizofrenia dan aku bersyukur akan hal tersebut. Dan saat ini mulai dari tanggal 1 Februari 2025 aku mulai menulis jurnal atas emosi, perasaan juga pikiran yang ada dan menulis merupakan terapi terbaik buatku selain obat yang diberikan oleh psikiater. 

Dan aku akan berusaha mendokumentasikan perasaan, pikiran dan pengalaman yang aku alami ke dalam satu buku yang itu akan aku persembahan untuk anak-anakku khususnya buat si bungsu Husain sebagai hadiah dan kompensasi dari ASI yang hanya 11 bulan saja, tidak seperti abang-abangnya yang dua-duanya ASI selama dua tahun, karena efek obat yang aku minum

13 tahun dalam pernikahan begitu banyak cerita yang dapat dituliskan yang dapat mengaduk-aduk emosi dalam jiwa. Alhamdulillah saat ini aku sudah jauh lebih baik walaupun tetap masih harus mengkonsumsi obat namun cuma satu jenis obat saja dan dengan dosis ¼ tablet saja hingga akhir dinyatakan putus obat dari psikiater